Posted by: Widi Asmoro in music business on
Feb 22, 2011
Dampak anjloknya industri rekaman berimbas pada Universal Music yang harus menutup 60 macam divisi kerjanya. 
berita selengkapnya: http://widiasmoro.web.id/?p=420
Posted by: Widi Asmoro in music business on
Feb 22, 2011
Music Matters adalah satu-satunya kongres musik yang dihadiri para pebisnis musik se-Asia. Sudah lima kali diadakan sejak 2006 dan biasanya diselenggarakan di Hongkong. Di tahun 2011 ini, Music Matters akan mencari suasana baru dengan berkongres di Singapore pada 26-28 Mei 2011.
baca selengkapnya: http://widiasmoro.web.id/?p=417
Posted by: Widi Asmoro in music business on
Feb 22, 2011
IFPI (International Federation of the Phonographic Industry)merilis laporan tahunannya hari ini. Inti dari laporan ini adalah industri musik mendesak peranan pemerintah untuk segera mengambil tindakan guna mencegah dampak yang semakin parah akibat pembajakan.
Posted by: Widi Asmoro in music business on
Feb 20, 2011
Alangkah senangnya dengar berita akan segera dibangun Museum Musik Indonesia. Seperti yang dilansir dari bisnis-jatim.com (4/1), Galeri Malang Bernyanyi yang diwakili juru bicaranyaHengki Herwantomerasakan perlu dibangun sebuah museum musik untuk Indonesia.
Live Nation, yang tahun lalu berhasil mengikat Madonna dan Jay-Z dalam kesepakatan 'all-in' dari penjualan album hingga pendapatan manggung, gagal meraih target di kwartal pertama.
Seperti yang dikutip dari Billboard.biz, Live Nation mengalami kerugian sekitar $102,7 juta. Kerugian ini disebabkan karena menurunnya jumlah pengunjung konser di daerah utara Amerika yang mana daerah ini merupakan pasar potensial untuk usaha mereka.
Meskipun mengalami kegagalan, Live Nation tetap optimis dapat merangkul pangsa pasar yang lebih besar. "Kami sedang mencoba untuk mempromosikan 'low-cost' tiket kepada fans di masa-masa ekonomi sulit saat ini," tandas Michael Rapino, CEO Live Nation.
Bidang usaha Live Nation adalah membuat konser-konser besar di seluruh dunia. Tiap tahunnya memproduksi sekitar 22,000 konser untuk 1,600 artis di 33 negara. Perusahaan yang bermarkas di California ini juga terdaftar dalam New York Stock Exchange dengan simbol LYV.
Dulu, Sekarang
Dulu, saya pikir jika saya dan band saya berhasil merilis sebuah album rekaman, maka saya telah sukses. Kesuksesan bermusik waktu itu yang ada di pikiran saya adalah sebuah album rekaman. Maka tak jarang waktu kami banyak dihabiskan didalam studio. Membuat lagu dan merekamnya. Tapi ternyata itu salah!
Seiring perkembangan industri musik yang semakin menggila, nampaknya industri ini masih akan menjadi favorite 5-10 tahun mendatang. Band-band baru banyak bermunculan, baik itu grup maupun solois, dengan berbagai macam keunikan yang diusungnya. Ditambah mereka semua juga telah mempunyai album rekaman yang siap bersaing di pasaran. Pendengar musikpun akhirnya disuguhi bermacam-macam pilihan. Mau nge-pop ada, mau retro ada, mau disco ada, mau yang vokalisnya ganteng atau cantik pun banyak. Belum lagi ditambah penetrasi album-album dari artis internasional. Lalu kapan band kami bisa di cap sukses -jika album rekaman menjadi tolok kesuksesan- 'kan saat ini semua orang bisa kok membuat album rekaman sendiri (thx for the exploitation of digitech).
Inilah fenomena yang aku lihat sekarang. Banyak band-band atau solois baru bermunculan. Dengan pongahnya meskipun baru merilis satu album, mereka sudah minta ‘dihargai’ tinggi. Atau mereka berpikir bahwa dirinya sudah dikontrak oleh label rekaman maka siapapun bakal mengejarnya. Kayaknya mereka keliru (atau malah) tidak menyadarinya.
Sebagai satu kasus yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri ketika saya tanya ke sebuah band baru tentang musik yang mereka usung di album ini seperti apa, ajaibnya mereka hanya menjawab, “Ya gitu deh mas..!”. Lho? Begitunya ‘gimana? Pendengarnya kan butuh gambaran seperti apa musiknya. Sebelum akhirnya pendengar itu memutuskan untuk membeli albumnya. Tapi si band tadi punya senjata pamungkas yang handal untuk menjawabnya, “Makanya beli dulu album kita, nanti tau deh lagunya gimana,, enak kok!”
Wah, edan juga nih band. Memangnya yang rilis album cuma band dia aja? Saya sendiri masih punya bertumpuk CD yang belum sempat saya dengar karena saking banyaknya orang merilis album.
Sekarang ini, pendengar musik akan banyak pertimbangan sebelum merogoh koceknya untuk membeli sebuah album rekaman. Belum lagi kalau materi album kita cuma layak masuk kategori “so-so”, wah harapan untuk menjadi band yang dikenal oleh banyak orang bakal semakin tipis deh. Lalu apalagi yang diharapkan kalau hanya mengandalkan materi album tanpa ada keberanian dalam strategi memperkenalkan album tersebut?